Nasi telah menjadi bubur.
Hubungan yang telah terjalin hampir satu tahun itu harus pupus terbakar api
cemburu Rian. Dan itu bukan cemburu tanpa alasan. Nina memang benar mendua.
Rian
hanya bisa termenung. Meski banyak wanita yang siap menerima Rian.tapi Rian
hanya mencintai Nina.
Empat
Bulan berlalu. Ketika Nina ingin memejamkan mata. Tiba-tiba ponselnya
berdenting “Pasti dari Doni” dengan malas Nina membuka SMS itu. Tapi, manakala
ia melihat pengirim SMS itu, hati Nina serasa berbunga.
Apa kabarmu? Kamu ingat
dengan saya?
“Ini nomor Rian”
Tanpa pikir panjang Nina
langsung menghubungi Rian.
“Rian? Apa kabarmu? Kamu
baik-baik saja?
“Ya, aku baik-baik saja Nina.
kenapa kamu menghubungiku?
Nina tergagap. Ia tak siap
menjawab pertanyaan itu “aku,,,aku selalu memikirkanmu Rian dan…” “ Ah… tak
usah bohong” Rian memotong “Kamu telah melupakan aku, bahkan untuk mengirim SMS
pun kamu tak sempat. Atau…jangan-jangan kau sudah lupa nomor ponselku?”
“Aku tahu. Semua teman-teman di
sini juga tahu nomor ponselmu, tapi…”
“Tapi apa?” Rian memotong lagi “Kau
terlalu egois. Satu kalipun tak pernah aku mendengarmu mengucapkan kata maaf.
Bahkan untuk kesalahan yang sangat kamu sadari”
“Maaf kan aku Rian. Aku masih menyayangimu”
“Jikalau kamu memang sayang
padaku. Besok temui aku di danau tempat kenangan indah kita dulu”
“Baiklah, tapi…” tiba-tiba
sambungannya terputus “Rian…. Halo… halo”
Nina coba tuk kembali menghubungi
Rian tapi selalu gagal.
***
Saat
sampai di tepi danau Rian tersenyum kecil… ia teringat akan kenangan manis itu…
Saat dimana Rian mengungkapkan
perasaannya pada Nina.
Setelah
lama menunggu. Rian mengirim SMS ke ponsel Nina “Nina, aku menunggumu” Namun
Nina tak membalasnya.
Rian masih termenung sendiri menatap harap ketengah danau.
Hari mulai sore. tak terasa rintik hujan muali turun. Namun
Rian tetap duduk dibangku itu. Rasa putus asa terbesit di hati Rian. Hujan pun
semakin deras.
Tiga minggu kemudian Nina datang ke kampus Rian.
“Nina”
“Rani? Apa kabarmu?” Nina
mnyalami Rani
“Baik, kenapa kamu kesini? Kamu kan seharusnya di asrama
kebidanan?”
“Aku ingin bertemu dengan Rian!!”
Wajah rani tersenyum kecil. “Apa
kamu tak mendapat kabar itu?”
“Kabar apa” Nina heran.
Rani menatap mata Nina “Tidak kah kau tahu. Rian meninggal
tujuh hari yang lalu”
Nina tersentak dan sekujur tubuhnya lemas.
“Duduklah Nina” Rani membimbing Nina duduk di taman kampus.
“Tak seorangpun menyangka. Ia pergi pada usia yang belia dan
teramat mendadak. Ia masih ramah seperti biasa” “Rian sakit” potong Nina dengan
lemas.
Rani menggeleng “Itu Cuma kecelakaan semata. Sedan itu menabrak motor Rian ketika keluar
dari pekarangan masjid kampus. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit. Tapi ia
sudah menghadap Tuhan”
Air mata tak terbendung lagi Nina menangis pilu.
“Oh..iya aku lupa. Satu minggu sebelum Rian meninggal. Rian
memberiku sebuah benda. Katanya kemarin dia menunggu seseorang sampai tengah
malam untuk memberi benda ini. Tapi katanya orang itu tak datang.
Saat ku Tanya “siapa orang itu
Rian?” tapi Rian menggeleng.
Ku pikir maksudnya kau “NINA”
Rani pun merogoh tas nya dan
mengambil Setangkai Mawar Putih Indah yang terbuat dari plastik.
Hati Nina terkoyak
Ia mengucapkan kata yang terbata-bata
“in..ini… ma..mawar per..pertama..ku”
Tiba-tiba nina pingsan dan
sekujur tubuhnya lemas seakan mawar itu menusuk tubuhnya dan melemparkannya ke
kegelapan yang tak mempunyai setitik cahaya harapan.
*Mohon untuk tidak meng Copy,
tulisan ini*



bikin nangis baca cerpen nya :'(
BalasHapus