Selasa, 13 Agustus 2013

Mawar putih


Nasi telah menjadi bubur. Hubungan yang telah terjalin hampir satu tahun itu harus pupus terbakar api cemburu Rian. Dan itu bukan cemburu tanpa alasan. Nina memang benar mendua.

            Rian hanya bisa termenung. Meski banyak wanita yang siap menerima Rian.tapi Rian hanya mencintai Nina.
            Empat Bulan berlalu. Ketika Nina ingin memejamkan mata. Tiba-tiba ponselnya berdenting “Pasti dari Doni” dengan malas Nina membuka SMS itu. Tapi, manakala ia melihat pengirim SMS itu, hati Nina serasa berbunga.
Apa kabarmu? Kamu ingat dengan saya?
“Ini nomor Rian”
Tanpa pikir panjang Nina langsung menghubungi Rian.
“Rian? Apa kabarmu? Kamu baik-baik saja?
“Ya, aku baik-baik saja Nina. kenapa kamu menghubungiku?
Nina tergagap. Ia tak siap menjawab pertanyaan itu “aku,,,aku selalu memikirkanmu Rian dan…” “ Ah… tak usah bohong” Rian memotong “Kamu telah melupakan aku, bahkan untuk mengirim SMS pun kamu tak sempat. Atau…jangan-jangan kau sudah lupa nomor ponselku?”
“Aku tahu. Semua teman-teman di sini juga tahu nomor ponselmu, tapi…”
“Tapi apa?” Rian memotong lagi “Kau terlalu egois. Satu kalipun tak pernah aku mendengarmu mengucapkan kata maaf. Bahkan untuk kesalahan yang sangat kamu sadari”
“Maaf kan aku Rian. Aku masih menyayangimu”
“Jikalau kamu memang sayang padaku. Besok temui aku di danau tempat kenangan indah kita dulu”
“Baiklah, tapi…” tiba-tiba sambungannya terputus “Rian…. Halo… halo”
Nina coba tuk kembali menghubungi Rian tapi selalu gagal.
***
            Saat sampai di tepi danau Rian tersenyum kecil… ia teringat akan kenangan manis itu…
Saat dimana Rian mengungkapkan perasaannya pada Nina.
            Setelah lama menunggu. Rian mengirim SMS ke ponsel Nina “Nina, aku menunggumu” Namun Nina tak membalasnya.
Rian masih termenung sendiri menatap harap ketengah danau.
Hari mulai sore. tak terasa rintik hujan muali turun. Namun Rian tetap duduk dibangku itu. Rasa putus asa terbesit di hati Rian. Hujan pun semakin deras.
Tiga minggu kemudian Nina datang ke kampus Rian.
“Nina”
“Rani? Apa kabarmu?” Nina mnyalami Rani
“Baik, kenapa kamu kesini? Kamu kan seharusnya di asrama kebidanan?”
“Aku ingin bertemu dengan Rian!!”
Wajah rani tersenyum kecil. “Apa kamu tak mendapat kabar itu?”
“Kabar apa” Nina heran.
Rani menatap mata Nina “Tidak kah kau tahu. Rian meninggal tujuh hari yang lalu”
Nina tersentak dan sekujur tubuhnya lemas.
“Duduklah Nina” Rani membimbing Nina duduk di taman kampus.
“Tak seorangpun menyangka. Ia pergi pada usia yang belia dan teramat mendadak. Ia masih ramah seperti biasa” “Rian sakit” potong Nina dengan lemas.
Rani menggeleng “Itu Cuma kecelakaan semata. Sedan itu menabrak motor Rian ketika keluar dari pekarangan masjid kampus. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit. Tapi ia sudah menghadap Tuhan”
Air mata tak terbendung lagi Nina menangis pilu.
“Oh..iya aku lupa. Satu minggu sebelum Rian meninggal. Rian memberiku sebuah benda. Katanya kemarin dia menunggu seseorang sampai tengah malam untuk memberi benda ini. Tapi katanya orang itu tak datang.
Saat ku Tanya “siapa orang itu Rian?” tapi Rian menggeleng.
Ku pikir maksudnya kau “NINA”
Rani pun merogoh tas nya dan mengambil Setangkai Mawar Putih Indah yang terbuat dari plastik.
Hati Nina terkoyak
Ia mengucapkan kata yang terbata-bata
“in..ini…  ma..mawar per..pertama..ku”
Tiba-tiba nina pingsan dan sekujur tubuhnya lemas seakan mawar itu menusuk tubuhnya dan melemparkannya ke kegelapan yang tak mempunyai setitik cahaya harapan.

*Mohon untuk tidak meng Copy, tulisan ini*

1 komentar:



 
MMORPG Games - MMORPG List - Video Game Music